Hernoe Paparkan Strategi Pemberdayaan Nahdiyin

NU Sumsel Online – Hernoe Roesprijadji, SIP. MH. MSi hadir dan menjadi pengisi materi pada Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) II, kader Banser Sumatera Selatan di Karang Agung, Banyuasin, Sabtu (19/6/2021).

Hernoe Roesprijadji merupakan Pembina PW Ansor Sumsel sekaligus Bendahara PW NU Sumsel dan Penasehat PW RMI NU Sumsel. Dalam paparannya, Mas Hernoe, demikian ia akrab disapa, menekankan pentingnya kader Banser percaya diri dan memiliki pengetahuan tentang networking, lobbying dan teknik serta strategi dalam melakukannya.

“Networking dan lobbying ini penting. Sebenarnya dalam Islam kita sudah diajarkan hal-hal seperti ini. Networking dan lobbying itu kalau dalam ajaran agama ya silaturahmi. Ajaran ini oleh para ahli kemudian dirumuskan menjadi satu bidang ilmu yang dikenal dengan kata networking dan lobbying,” jelas Mas Hernoe.

Dalam hidup ini, lanjut Mas Hernoe, di bidang apapun kita atau profesi apapun yang kita jalani, baik itu bisnis, organisasi, sosial maupun politik, kita tidak bisa lepas dari apa yang disebut membangun networkdan melakukan lobby-lobby.

Contohnya, kata Mas Hernoe, ketika kita akan melamar calon pasangan hidup kita, atau saat kita ingin mendapatkan sesuatu baik di bidang bisnis atau politik, atau yang lainnya, hal yang harus dilakukan adalah upaya pendekatan terlebih dahulu dengan teknik atau strategi tertentu hingga apa yang kita inginkan bisa tercapai.

Sebagai kader Banser, menguasai teknik dan strategi networking dan lobbying sangat penting untuk menunjang aktifitas Banser di dalam kehidupan masyarakat, terutama untuk membangun dan membesarkan organisasi Banser, termasuk meraih karir politik melalui Banser.

Pada kesempatan yang sama, Hernoe Roesprijadji juga menjelaskan tentang bagaimana melakukan strategi pemberdayaan ekonomi, khususnya di kalangan jamaah nahdliyin.

“Sebuah negara bisa besar dan maju manakala warganya, minimal 2% saja, jadi pengusaha. Di Indonesia ini jumlah pengusaha masih 1,6%, di Malaysia 6%, Singapura 7%, Jepang atau Amerika 10%,” ujar Mas Hernoe.

Dari situ, terang Mas Hernoe, kita bisa melihat argumentasi kuantitatif-nya mengapa bangsa Indonesia belum maju. Persoalannya terletak pada mindset; sebagian besar masyarakat Indonesia senangnya menjadi pegawai. Padahal Nabi Muhammad sendiri adalah seorang pengusaha.

Oleh karena itu, sebagai kader bangsa kita harus mengubah mindset dari obsesi menjadi karyawan ke arah bagaimana kita memupuk tekad dan keinginan untuk menjadi seorang pengusaha.

Lebih dari itu, kader Banser harus kreatif, memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan bisa menjadi pelopor untuk hal tersebut, dimulai dari diri sendiri kemudian memberdayakan ekonomi umat, yang pada akhirnya bisa mendorong umat Islam Indonesia, khususnya jamaah nahdliyin, memiliki mindset untuk menjadi pengusaha.

Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) II Banyuasin berlangsung mulai 17 hingga 20 Juni 2021 dan diikuti oleh 130 Banser yang berasal dari utusan beberapa PAC yang ada di Banyuasin dan Palembang serta 6 peserta utusan dari Provinsi Jambi. (Rl)

About Redaksi NU Sumsel

Check Also

Cak Amir: Gus Yahya Tak Ada Kendala, Sebentar Lagi Menjadi Ketum PBNU

NU Sumsel Online – menjelang Muktamar PBNU yang akan digelar pada 17 Desember, Caketum PBNU …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *