MEMAKNAI 3 TRADISI IDUL FITRI DI INDONESIA

Khutbah I

9x:اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

الْحَمْدُ ِللهِ الْمُنْعِمِ عَلَى مَنْ أَطَاعَهُ وَاتَّبَعَ رِضَاهُ، الْمُنْتَقِمِ مِمَّنْ خَالَفَهُ وَعَصَاهُ، الَّذِى يَعْلَمُ مَا أَظْهَرَهُ الْعَبْدُ وَمَا أَخْفَاهُ، الْمُتَكَفِّلُ بِأَرْزَاقِ عِبَادِهِ فَلاَ يَتْرُكُ أَحَدًا مِنْهُمْ وَلاَيَنْسَاهُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى مَاأَعْطَاهُ، أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ عَبْدٍ لَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِى اخْتَارَهُ اللهُ وَاصْطَفَاهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ.

أَمّأَبَعْدُ؛ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ، وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ وَتَمْجِيْدٍ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ

Jamaah sholat  idul fitri yang dimulyakan Allah SWT,

Alhamdulillah syukur,  dengan segala nikmat, taufik dan hidayah Allah swt, detik ini kita dipertemukan kembali dengan hari yang penuh kemenangan dalam memerangi hawa nafsu sebulan penuh selama bulan suci ramadhan, maka seluruh umat Islam di dunia bersatu, memperingati hari raya kemenangan, yakni hari raya Idul Fitri. Untuk itu, tentunya menjadi suatu keharusan pribadi dan umumnya kita semua untuk selalu meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita dengan berupaya semaksimal mungkin melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-NYA dengan tunduk, setunduk-tunduknya dan amat sangat tunduk dihadapan Allah SWT.  

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin yang dimulyakan Allah SWT,

Hari raya Idul Fitri adalah hari raya kemenangan umat Islam. Hari kembalinya berbuka puasasetelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Hari dimana setiap Umat Islam yang melaksanakan Puasa Ramadhan kembali fitrah atau suci dari segala dosa-dosa yang telah lalu bagaikan bayi yang baru lahir.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa puasa di bulan Ramadhan dengan iman dan ikhlas karena Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lampau”

Saking berharganya Hari Raya Idul Fitri, Umat Islam Indonesia memiliki 3 tradisi yang khas yang tidak bisa ditinggalkan;  

Pertama, Tradisi Halal bi halal

Istilah Halal bi halal yang digagas oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullah (Pahlawan Nasional sekaligus Pendiri Organisasi Nahdlatul Ulama’), tepatnya tahun 1948, ketika Indonesia dilanda gejala disintegrasi atau perpecahan bangsa. Para elite politik saling bertengkar, tidak mau bersatu, dan terjadi pemberontakan di mana-mana, karena hal ini merupakan dosa, Kemudian KH. Abdul Wahab Chasbullahmemberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan halal bi halal. yaitu dengan duduk bersama untuk saling sepakat dan memaafkan, saling menghalalkan ketika menjelang idul fitri, sehingga mereka bisa bersatu menyusun kekuatan dan persatuan untuk masa depan bangsa Indonesia. Kesepakatandan persatuan di atas tentunya merupakan salah satu perwujudan dari salah satu hadits Rasulullah SAW,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang Islam yang satu dengan yang lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan.”

Tradisi di atas juga sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Araf ayat 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِيْن

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripadaorang-orang yang bodoh.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin yang dimulyakan Allah SWT,

Kedua, Tradisi Berbagi  Angpao

Tradisi angpao atau berbagi uang Lebaran berasal dari Abad Pertengahan. Kekhalifahan Fatimiyahdi Afrika Utara mulai membagikan uang, pakaian, atau permen kepada anak-anak muda dan masyarakatpada umumnya saat hari pertama Idul Fitri, dan berkembang menjadi uang tunai berkisar 1000, sampai10.000 an, Dengan tujuan sebagai hadiah, mengajari mengelola keuangan pribadi,  Berbagi, dan tentunya mengajari sedekah. Ternyata tradisi ini sesuai dengan Pesan Rasulullah Saw ketika merayakan idul fitri;

“Bersungguh-sungguhlah pada hari raya Idul fitri dengan bersedekah, dan segala amal baik dan bagus...

Dalam hal sedekah, Rasulullah SAW berpesan kepada kita semua;

  أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ (أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)ـ  

Sebaik-baik perbuatan menurut Allah adalah yang dirutinkan meskipun sedikit” (HR al-Bukhari dan Muslim). 

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin yang dimulyakan Allah SWT,

Ketiga, Tradisi Mudik

Mudik, merupakan Sebuah tradisi berisikan kerinduan di tanah rantau untuk pulang melihat kembalitanah kelahiran. Sebuah tradisi luhur untuk kembali lagi berkumpul dengan keluarga, sekaligusbersimpuh sungkem dalam pelukan kedua orang tua, atas segala kesalahan dan kekhilafan yang tak terhitung seorang anak kepada orang tuanya, baik dari ucapan kasar kita, sikap tidak hormat kita, yang menyakiti hati kedua orang tua kita, maka sungkem, mencium kedua tangan keriputnya, bahkan kakinya  adalah satu kewajiban.

Jika kita renungkan lebih dalam, hakikat mudik adalah kembali ke pangkuan orang tua. Sosokpaling berjasa yang telah melahirkan kita ke dunia ini, sosok yang telah menjadi pahlawan kesuksesankehidupan kita. Maka, jangan sombong dengan keberhasilan yang telah  kita raih, Semua itu tidak akanbisa lepas dari jasa dan doa kedua orang tua kita. Bagaimana pun kondisi orang tua kita, mereka adalahsosok yang harus kita cintai, hormati, dan patuhi. Mereka adalah jimat sakral, Karena keridhaan dankeikhlasan orang tua akan menjadi sumber kesuksesan kehidupan kita di dunia sampai akhirat dan sebaliknya.

Rasulullah bersabda:

رِضَى اللهِ فىِ رِضَى الْوَالِدَيْنِ وَسُخْطُ اللهِ فِى سُخْطِ الْوَالِدَيْنِ

Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan kemarahan Allah tergantung kemarahanorang tua

Untuk itu, Jarak jauh, lautan, jalan berliku, waktu, tenaga, serta biaya yang harus dikeluarkan untuk mudik,  tidak sebanding dengan besarnya nilai sungkem kita kepada orang tua., yakni mendapat ridlo dan senyumnya orang tua kita. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitab Al-Ghuniyah menjelaskan bahwa hari raya Idul Fitri adalah momentum untuk menghapuskan segala dosa dan kesalahan. Momentum untuk berhijrah, yakni berhijrah dari kejelekan menuju kebaikan.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Hadirin yang dimulyakan Allah SWT,

Mari kita contoh puasanya ulat, sebelum berpuasa ia menjadi hewan yang menjijikkan, namun setelah berpuasa selama beberapa waktu, ia menjadi kupu-kupu yang bersih dan disukai oleh banyak orang. Dan sebaliknya, Jangan sampai kita berpuasa sebagaimana ular, tiada perbedaan selama melakukan puasa, bahkan setelah puasa ia lebih ganas dari sebelumnya. Na’ûdzu billâhi min dzâlik. ​​​​​Mudah-mudahan di hari Raya idul fitri ini, menjadi momentum bagi kita untuk semakin memperkuat kearifan pribadi dengan saling menghalalkan kesalahan sesama, menjaga tradisi sungkem kepada kedua orang tua, dan tradisi istiqomah bersedekah, sehingga hal ini menjadi amal jariyah yang menghantarkan lisan kita, ketika malaikat maut hendak mencabut ruh dari jasad kita, untuk mengucap laila haillah waashaduanna muhammadarasullah, sehingga kita benar-benar kembali dengan identitas khusnul khotimah. Aamin aamin ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

7x:اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. فَيَاعِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلعَظِيْمِ “إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ, يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا”. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَأًصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


اَللَّهُمَّ اغْفِر،ْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِماَتِ, وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ اْلحَاجَاتِ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا، وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ، وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ.

رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ، وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Penulis : Dr. Darul Abror, M.Pd.

(Ketua LP Ma’arif NU OKI, Ketua IKA PMII OKI &  Mabinda PMII Sumsel)

About Redaksi NU Sumsel

Check Also

4 Manusia yang dirindukan Surga

Khutbah I الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ  أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *