Studi Etnografi dalam Kerangka Masyarakat dan Budaya

Masyarakat dengan segala kebudayaannya memiliki akar sosiologis yang cukup mengakar kuat. Kebudayaan yang dihasilkan dari interaksi sosial menjadikan nilai distingsi tersendiri dalam masyarakat tersebut. Cikal bakal kebudayaan merupakan aspek penting dalam kerangka sosial kemasyarakatan. Penelitian akan aspek kebudayaan ini menggunakan studi etnografi. Dalam implementasinya etnografi menekankan pada aspek kebudayaan yang ada. Hal inilah menjadi ciri penting dari studi etnografi. Sebagai penelitian kualitatif etnografi melakukan analisa secara mendalam terhadap kebudayaan yang diteliti. Disisi lain, terdapat keterkaitan yang cukup erat antara etnografi dengan masyarakat dan kebudayaan sebagai hasil kreativitasnya. Oleh sebab itu, keterkaitan tersebut perlu diaplikasikan secara positif, di mana perlunya menggunakan studi etnografi sebagai bentuk alternatif dalam melaksanakan penelitian tentang kebudayaan di masyarakat.

Kata Kunci: Etnografi, Kebudayaan, Masyarakat

A. Pendahuluan

Studi yang menitikberatkan pada kehidupan sosial kemasyarakatan belakangan ini semakin mendapat perhatian yang lebih. Hal itu terjadi karena kerangka dalam masyarakat memiliki daya tarik dengan segala distingsinya sebagai khazanah sosial. Bahkan, tidak jarang menjadi nilai budaya lokal (local wisdom). Karakteristik masyarakat dengan segala kerangka sosialnya memiliki potensi yang cukup menarik untuk dikaji. Terlebih lagi terhadap masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai lokalitas dan tradisionalitas.

Dalam hal ini, Indonesia telah menjadi tuan rumah dalam studi sosial dengan segala objek sosialnya yang cukup menarik dan beragam. Seperti diketahui, Indonesia sebagai negara pluralis, multikultur, atau multietnik dengan jumlah suku yang barangkali terbesar. Menurut Koentjaraningrat dan Malalatoa menyebutkan Indonesia memiliki 577-660 suku bangsa, di mana terutama dapat dilihat dan dibedakan dari bahasa yang digunakan dalam kehidupan keseharian.Jumlah tersebut telah menunjukkan keberagaman dalam skala besar di ranah nasional. Selain dari sisi bahasa keseharian, perbedaan antar suku di Indonesia juga dapat terlihat dalam segala aktivitas dan interaksi sosialnya.

Mengenai implementasi penggunaan model dan analisa pada penelitian sosial terklasifikasi dalam beberapa bentuk, diantaranya seperti studi kesejarahan, studi sosiologi, dan antroplogi. Model tersebut menjadi indikator dalam melakukan studi sosial di masyarakat. Hal itu berperan untuk memberikan rancangan instrumen dan target hasil yang hendak dicapai.

Posisi studi etnografi termasuk dalam penelitian sosial. Etnografi merupakan cabang antropologi yang digunakan untuk menggambarkan, menjelaskan, dan menganalisis, unsur suatu kebudayaan atau bangsa. Dalam pandangan Koentjaraningrat dinyatakan bahwa isi dari etnografi mengenai suatu deskripsi tentang kebudayaan etnik dari suatu suku bangsa secara holistik (keseluruhan).

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa tolok ukur etnografi menitikberatkan pada aspek kebudayaan yang melekat pada suatu sistem kemasyarakatan, termasuk dalam konteks yang paling besar adalah kebudayaan yang melekat pada suatu bangsa. Sampel sederhananya tentu melalui pelacakan atas kebudayaan lokalitas-lokalitas yang ada. Karena dengan membangun pemahaman atas lokalitas akan memberikan dorongan untuk melihat lokalitas di tempat lain.

Studi atas kebudayaan disetiap lokal memang cukup menarik untuk dikaji. Disini etnografi memiliki tempat yang cukup baik. Ditambah lagi, kerangka sosial suku bangsa di Indonesia yang cukup beragam membuat studi etnografi semakin layak dan dipertimbangan untuk digunakan. Etnografi hadir sebagai solusi atas keberagaman masyarakat dan kebudayaan yang melekat didalamnya. Oleh sebab itu, berangkat dari pemikiran tersebut, tulisan ini akan memaparlan secara lebih jauh lagi tentang studi etnografi dalam penelitian sosial.

B. Tinjauan Definisi dan KonsepEtnografi

Mendefinisikan etnografi menjadi dasar yang penting untuk memahaminya lebih lanjut lagi. Dalam hal ini, etnografi berasal dari bahasa Yunani, ethnos yang berarti orang dan graphein yang berarti tulisan. Terdapat pengertian lain yang semakna, di mana secara harfiah sederhana, etnografi diartikan sebagai tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan (field work). Secara klasifikasi, etnografi termasuk kedalam penelitian kualitatif.

Dalam pandangan Duranti, etnografi adalah deskripsi tertulis mengenai organisasi sosial, aktivitas sosial, simbol dan sumber meterial, serta karakteristik praktik interpretasi suatu kelompok manusia tertentu. Pada dasarnya perhatian utama penelitian etnografi adalah tentang the way of life suatu masyarakat. Dalam padangan Spradley etnografi tidak hanya mempelajari masyarakat, tetapi juga belajar dari masyarakat. Karena esensi penelitian etnografi tidak hanya mengambil simpulan dari kebudayaan masyarakat saja, tetapi juga mengambil hikmah dan pelajaran sosial dari kebudayaan tersebut.

Etnografi dianggap sebagai metode khusus yang didalamnya terdapat berbagai bentuk dan karakteristik tertentu, termasuk partisipasi etnografer (peneliti etnografi) dalam memahami dan mengikuti kehidupan sehari-hari dari seseorang dalam periode yang lama, melihat apa yang terjadi, mendengar apa yang dikatakan, bertanya kepada mereka, dan pada kenyataannya mengumpulkan data apa saja yang ada. Dalam hal ini, seorang etnografer terlibat langsung dalam kehidupan keseharian sebagai bentuk pengamatan dan pengambilan data di lapangan.

Selain itu, Koentjaraningrat memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai etnografi, di mana menurutnya bahan mengenai kesatuan kebudayaan suku bangsa di suatu komunitas dalam suatu daerah geografi, ekologi, atau wilayah administratif yang menjadi pokok deskripsi, biasanya dibagi ke dalam bab-bab tentang unsur kebudayaan, sesuai dengan tata urut yang baku, yang disebut dengan kerangka etnografi. Penjelasan ini cenderung kepada konsep yang melekat pada etnografi melalui pendekatan kerangkanya, di mana pandangan tersebut menitiberatkan pada elemen-elemen kebudayaan yang didasarkan pada tingkatan levelnya sebagai tata urut yang telah disepakati secara sosial dalam kelompok masyarakat tersebut.

Pada dasarnya sifat yang melekat pada penelitian etnografi bersifat holistik-integratif. Hal itu dimaksudkan untuk dapat memberikan penjelasan secara keseluruhan dan saling berkaitan dari objek (budaya) sosial yang dikaji. Budayatelah dianggap sebagai keseluruhan, di mana terdiri dari bagian-bagian yang tidak dapat terpisahkan. Oleh sebab itu, bisa dikatakan interaksi bagian-bagian dari kebudayaan telah menyatu.

Selain kerangka etnografi, terdapat pula karakteristik yang melekat pada etnografi. Karakteristik yang dimiliki etnografi di antaranya; pertama, menggali atau meneliti fenomena sosial. Dalam konteks ini, peristiwa yang terjadi didalam masyarakat tertentu dikaji secara mendalam. Kedua, data tidak terstruktur. Sebagai penelitian sosial dengan objek masyarakat tentu data yang bersumber dari masyarakat tidak dapat di ukur kepastiannya, dikarenakan data tersebut sebagai data empiris yang cenderung berbeda dalam persepsi antar personal dan kelompok sosial. Ketiga, kasus atau sampel sedikit. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian etnografi menggunakan pendekatan induktif, artinya kesimpulan yang didapat didasarkan dari yang khusus menjadi umum. Keempat, dilakukan analisis data dan interpretasi data tentang arti dan tindakan manusia (human action). Hal ini yang paling menarik dari etnografi, yakni menarik kesimpulan atas sikap dan perilaku sosial suatu masyarakat.

Menurut Ahimsa Putra telaah etnografi di Indonesia, didasarkan pada gaya penulisannya, sehingga menyimpulkan empat tipe etnografi, di antaranya; etnografi awam, laci (positivisme), analisis, dan kritis. Hal itu berbeda dengan pandangan Jakobson sebagaimana dikutip Arianto, dalam membaca dan menganalisis etnografi ia membaginya menjadi tiga tipe, yaitu; etnografi struktural, simbolik, dan organisasi.

Etnografi sebagai model penelitian sosial bisa dikatakan sebagai panorama studi lapangan yang cukup distingtif, di mana seorang etnografer akan terlibat langsung didalamnya dalam kurun waktu yang lama. Hal itu bertujuan untuk memudahkan pengamatan akan fenomena sosial yang terjadi. Secara lebih jauh lagi akan memudahkan dalam melakukan interpretasi data yang didapat.

C. Melacak Etnografi dalam PerspektifSejarah

Etnografi mengalami hiruk-pikuk dalam catatan sejarahnya. Populernya etnografi saat ini tidak terlepas dari proses lahirnya etonografi yang telah terbingkai dalam catatan sejarah. Etnografi merupakan embrio dari antroplogi, yaitu lahir pada tahap pertama dari perkembangannya. Ini menjadi cikal bakal awal bibit etnografi dalam kerangka antropologi. Bisa dikatakan pada masa silam etnografi telah lahir sebagai metode untuk mengamati kebudayaan masyarakat, meski saat itu belum cukup populer dalam penelitian sosial.

Perkebambangan etnografi dalam kesejarahannya memiliki perjalanan yang panjang. Hal ini berkaitan dengan sejarah antroplogi itu sendiri, mulai dari kisah-kisah perjalanan para musafir hingga terbentuknya antropologi sebagai suatu ilmu. Oleh sebab itu, etnografi sering disebut anthropological field study approach. Dalam perkembangan kesejarahannya cikal bakal lahirnya etnografi terbagi menjadi empat masa.

Pertama, masa etnografi mula-mula(akhir abad ke-19). Pada masa ini fokus etnografi menitikberatkan pada perkembangan evolusi manusia, mulai dari lahirnya manusia hingga perkembangannya saat ini. Namun, hal itu dilakukan hanya pada sebatas wacana, karena para peneliti hanya sekadar melakukan studi kepustakaan, tanpa terlibat atau terjun langsung ke lapangan. Dikemudian hari pada akhir abad ke-19 wacana semacam ini mulai dipertanyakan. Itu terjadi karena tidak ada fakta sosial yang mendukung interpretasi yang dilakukan peneliti. Tokoh-tokohnya saat itu di antaranya; Taylor, Frazer, dan Morgan.

Kedua, masa etnografi modern (1915-1925). Racliffe Brown dan Malinowski menjadi pelopor pada masa ini. Perbedaan dari etnografi pada masa awal, mereka tidak memandang suatu hal yang berhubungan dengan sejarah kebudayaan kelompok masyarakat.Mereka lebih menekankan kehidupan masa kini oleh anggota masyarakat sebagai way of life suatu masyarakat. Pada masa ini, etnografi mencoba mendiskripsikan dan membangun struktur sosial budaya masyarakat melalui interpretasi seorang peneliti. Tidak hanya itu, kemudian dilakukan perbandingan dengan sitem sosial untuk dapat ditarik kesimpulan tentang kaidah-kaidah umum yang ada didalam masyarakat.

Ketiga, masa baru generasi pertama (etnografi baru generasi pertama/ 1960-an). Etnografi pada masa ini dikembangkan oleh Spradley yang menitikberatkan pada masyarakat mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran (mind), di mana kemudian diimplementasikan dalam kehidupan sosialnya. Bentuk sosial dan budaya disini menurut aliran ini adalah susunan yang ada didalam pikiran anggota masyarakat dan tugas peneliti untuk menguaknya keluar. Oleh sebab itu, analisis dalam etnografi ini tidak sekadar didasarkan pada interpretasi peneliti. Melainkan berasal dari pemahaman atas susunan pikiran anggota masyarakat. Karana pada dasarnya bertujuan untuk menemukan dan menggambarkan pola organisasi pikiran dari suatu masyarakat yang dikaji.

Keempat, masa etnografi baru generasi kedua. Etnografi pada masa ini merupakan hasil sintesis dari pemikiran Spradley pada masa sebelumnya. Dalam pandangan Spradley etnografi tidak lagi dianggap sebagai metode untuk meneliti budaya luar (masyarakat kecil) yang terisolaso, tetapi masyarakat sendiri pula yang cukup multikultural. Pada intinya dari sintesis pemikiran Spradley ini berupaya untuk memperhatikan makna dari segala tindakan yang terjadi pada orang lain, dan ingin memahaminya melalui analisa kebudayaan.

Dalam perspektif keindonesiaan, kesejarahan etnografi di Nusantara telah dikaji lama. Bahkan, catatan etnografi tentang Indonesia sebelum terjadinya Perang Dunia II telah dipaparkan oleh Koentjaraningrat. Dalam hal ini, terdapat beberapa tokoh penting yang telah melakukan penelitian etnografi di Indonesia sekaligus mengabadikannya dalam bentuk catatan etnografi, seperti Snouck Hurhronje yang telah mengasilkan karya etnografi tentang suku bangsa Aceh dan suku bangsa Gayo. Selain itu, terdapat pula A.W. Nieuwenhuis yang telah menulis tentang suku Dayak, kemudian yang lain seperti A.C. Kuryt yang menulis tentang suku bangsa Toraja. Ketiga tokoh fenomenal tersebut telah menghasilkan karya yang cukup menarik tentang studi etnografi yang dilaksanakan di negara Indonesia.

Pada masa perkembangannya, etnografi mengalami transformasi yang cukup siginifikan. Selain itu, dalam perkembangannya disertai dengan pengetahuan tentang konsep-konsep dan teori ilmiah. Konsep yang dimaksud adalah konsep yang berkaitan dengan ilmu antroplogi, serta konsep terkait ilmu sosial lainnya, seperti; sosiologi, linguistik, psikologi, sejarah, ekonomi, politik, kesehatan, dan lain sebagainya. Konsep tersebut dianggap cukup penting. Hal itu dikarenakan penggunaan konsep tersebut menjadi acuan dalam memahami kebudayaan masyarakat.

D. Model Prosedural Studi Etnografi

Memahami etnografi seringkali diperdebatkan dengan metodologinya. Pada dasarnya etnografi adalah cara untuk mengumpulkan data, tetapi tidak bisa dipahami dalam konteks teori dan kerangka filosofisnya. Dalam konteks ini, metode merupakan tata cara atau prosedural dalam sebuah penelitian. Maka, metodologi adalah bangunan dari teori dan kerangka filosofisnya yang termasuk didalamnya terkait prosedur penelitian.

Sebelum menginjak pada prosedur penelitian pada studi etnografi, terdapat tiga elemen penting didalamnya. Pertama, refleksivitas, di mana berkaitan dengan kondisi dan keadaan peneliti yang dapat menjadikan dirinya sebagai alat untuk memperjelas data pada proses pengumpulan data melalui kehadiran dan respon peneliti pada konteks. Akan tetapi, bias dan subjektivitas bisa terjadi didalamnya. Refleksivitas dalam etnografi merujuk pada kesadaran dan keterbukaan peneliti untuk membahas bagaimana dia dapat menjalankan perannya dengan tetap menghargai dan menghormati lapangan dan para partisipan. Kedua, observasi partisipan, konteks ini berkaitan dengan fokusnya peneliti pada diri sendiri secara keseluruhan dalam situasi sosial, sehingga diharapkan peneliti akan lebih dekat dengan informan yang ditelitinya. Selain itu, peneliti juga sangat dianjurkan untuk melakukan pertimbangan atas perilaku sosial, termasuk didalamnya pengetahuan sosial, di mana hal itu sebagai penguat dan penjelas. Ketiga, analisis kultural, hal ini menjadi bagian akhir dari elemen observasi partisipan. Apabila terdapat ketidakmaksimalan pada observasi dan wawancara, maka akan terbantu dengan pemahaman aktivitas budaya dan proses yang ditulis dalam catatan lengkap.Adanya ketiga elemen tersebut akan dapat memberikan konsep penting dalam melakukan analisa di lapangan terhadap masyarakat yang diteliti.

Dalam melakukan penelitian etnografi tidak berlangsung secara linier. Namun, terjadi dalam bentuk siklus penelitian. Dalam pandangan Spradley siklus penelitian etnografi mencakup enam langkah. Pertama, pemilihan proyek etnografi. Langkah ini menjadi langkah utama untuk mengidentifikasi tujuan penelitian, desain yang akan digunakan, dan bagaimana tujuan itu dihubungkan dengan masalah penelitian. Hal tersebut akan menentukan proyek penelitian yang akan dilaksanakan, di mana merupakan desain etnografi realis, studi kasus, ataupun kritis.

Kedua, pengajuan pertanyaan. Terdapat tiga unsur penting dalam mengajukan pertanyaan (wawancara), yakni tujuan yang eksplisit, penjelasan, dan pertanyaan yang bersifat etnografis. Pada dasarnya aktivitas wawancara ini sudah dilakukan sejak melakukan observasi. Terdapat tiga pertanyaan penting dalam observasi, yakni; siapa yang ada di latar penelitian ?, apa yang mereka lakukan ?, dan apa latar fisik situasi sosial tersebut ?. Selanjutnya, peneliti berhak untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lainnya yang menjadi fokus penelitian.

Ketiga, pengumpulan data. Tugas penting dalam penelitian etnografi adalah melakukan pengumpulan dan pencarian data. Pada dasarnya pengumpulan data dilakukan dengan prosedur yang beragam (multiple procedures), serta intensitasnya bervariasi sesuai dengan tipe (bentuk) penelitian etnografi yang dilaksanakan. Misalnya, dalam penelitian etnografi realis, peneliti akan tinggal bersama dengan para partisipan dalam waktu yang relatif lama, di mana data akan didapat melalui wawancara, pengamatan langsung atas perilaku, serta pengamatan terhadap artefak dan simbol-simbol budaya. Selanjutnya, dalam penelitian etnografi kritis, pengumpulan data akan lebih fokus kepada kolaborasi antara peneliti dengan partisipan dengan mengagendakan meningkatkan pemahaman tentang situasi tertentu untuk dapat diambil langkah yang tepat.

Keempat, perekaman data. Berbagai data yang telah didapatkan dari hasil pengamatan dan wawancara kemudian dilakukan perekaman atas data tersebut, di mana disesuaikan dengan jenis dan bentuknya. Perekaman data dapat dilakukan dengan bentuk catatan lapangan, foto, video, serta cara lainnya yang dapat membantu peneliti dalam menganalisisnya. Kelima, analisis data. Dalam melakukan analisis data dilakukan secara simultan. Tahapan dalam analisis data melalui empat bentuk, yakni; analisis domain yang digunakan untuk memperoleh gambaran umum atau pengertian menyeluruh tentang objek penelitian (situasi sosial); analisis taksnonomi digunakan untuk menjabarkan domain-domain yang dipilih menjadi lebih rinci untuk mengetahui struktur internalnya; analisis komponensial digunakan untuk melakukan wawancara atau pengamatan terpilih agar memperdalam data melalui pengajuan pertanyaan yang kontras antar elemen dalam suatu domain; dan analisis tema kultural yang digunakan untuk melakukan pencarian kesimpulan antara domain untuk memperoleh tema-tema tertentu, seperti nilai-nilai, premis, etos, pandangan dunia, ataupun orientasi kognitif.

Keenam, penulisan laporan etnografi.Kegiatan ini menjadi tugas akhir dalam penelitian etnografi. Pada dasarnya penelitian etnografi melibatkan suatu open-ended enquiry, di mana mungkin saja peneliti diharuskan mengadakan analisis yang lebih intensif jika pada saat menulis laporan menemukan pertanyaan-pertanyaan baru yang membutuhkan observasi lanjutan. Dalam penulisan etnografi tentu harus disesuaikan dengan tipenya. Misal, etnografi realis ditulis sebagai laporan yang objektif, di mana pandangan dan bias harus diletakkan hanya pada bagian latar belakang. Sedangkan, diskusi pada bagian akhir mengindikasikan adanya sistemisasi pengetahuan tentang kebudayaan yang telah diteliti.

Beberapa langkah di atas merupakan model penelitian etnografi yang cukup memberikan arahan dalam melakukan penelitian. Namun, tingkat ketelitian dan kejelian seorang peneliti menjadi indikator kunci utama atas suksesnya penelitian etnografi. Tentunya didahului dengan proses perancangan yang matang dan maksimal. Oleh sebab itu, selain pengetahuan dalam memahami bagaimana menyusun penelitian etnografi, dibutuhkan juga tingkat kemampuan peneliti dalam melihat masalah yang ada.

E. Titik Temu Etnografi, Masyarakat, dan Budaya

Pemahaman atas etnografi tidak terlepas pada konteks kemasyarakatan yang menjadi objek penelitian. Lahirnya etnografi juga terjadi atas pemahaman dan analisa atas interaksi sosial dalam masyarakat. Posisi etnografi didalam masyarakat menjadi penting, di mana etnografi bertindak dalam melakukan penilaian kebudayaan atas masyarakat tersebut. Disisi lain, hasil dari penelitian etnografi juga akan memberikan arah baru dalam paradigma kebudayaan masyarakat.

Dalam pandangan ahli antropologi,kebudayaan dianggap sebagai suatu sistem yang terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, da nilai-nilai, yang ada didalam pikiran individu dalam suatu masyarakat. Konsep ini kemudian mengalami kristalisasi, sehingga memberikan pengertian baru atas kebudayaan itu sendiri. Konsep kebudayaan ditampakkan dalam berbagai pola tingkah laku yang dikaitkan dengan kelompok masyarakat tertentu.

Pengertian kebudayaan dalam konsep tersebut terbagi menjadi tiga. Pertama, kebudayaan berada dalam tatanan kenyataan atau realitas ideasional. Kedua, kebudayaan dipergunakan masyarakat sebagai pendukungnya dalam proses orientasi, transaksi, pertemuan, perumusan gagasan, penggolongan, dan penafsiran perilaku sosial yang nyata dalam masyarakat. Ketiga, kebudayaan merupakan pedoman dan pengarah bagi individu-individu anggota masyarakat dalam berperilaku sosial yang dianggap pantas maupun sebagai penafsir bagi perilaku individu lain.

Hal di atas berbeda dalam pandangan Clifford Geertz, di mana menurutnya kebudayaan sebagai sistem makna simbolik. Lebih lanjut lagi, ia menambahkan kebudayaan memiliki sistem semiotik yang memuat simbol-simbol yang berfungsi untuk mengkomunikasikan dan mengisyaratkan makna-makna dari pikiran antar individu, sehingga bagi Geertz kebudayaan merupakan objek, tindakan, atau peristiwa dalam masyarakat yang fenomenal dan dapat diamati, dirasakan, serta dipahami.Pandangan ini menitikberatkan pada aspek simbol dan makna kebudayaan di antara pikiran individu yang secara bersama-sama dimiliki sebagai kenyataan publik, sehingga hal tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari sifat holistik dari kebudayaan masyarakat.

Pada dasarnya konsep kebudayaan di atas tidak sekadar untuk mengacu kepada tipe masyarakat suku bangsa, seperti kebudayaan Jawa dan Sunda. Namun, melekat pula pada sistem organisasi formal, seperti institusi pelayanan kesehatan (puskesmas, posyandu, dan rumah sakit), maupun organisasi bisnis dengan segala korporatnya. Fokus kebudayaan yang dimiliki sistem organisasi formal mengacu pada pengaruh akan budaya birokratisme dan profesionalisme dalam bekerja dan membangun relasi.

Secara sederhana, bisa dikatakan bahwa keseluruhan kelompok masyarakat telah memiliki kesatuan kebudayaan sendiri sebagai khazanah sosial. Dalam perspektif kebudayaan di Indonesia, Clifford Geertz memberikan penyederhanaan kebudayaan Indonesia menjadi dua tipe, yakni; kebudayaan yang berkembang di Indonesia dalam, yang terdiri dari Jawa dan Bali; serta kebudayaan di Indonesia luar, yang terdiri dari pulau di luar Jawa dan Bali. Akan tetapi terdapat pula klasifikasi lain tentang kebudayaan suku bangsa, di mana terbagi menjadi tiga kategori, yakni kebudayaan masyarakat petani berimigrasi, kebudayaan pantai yang diwarnai kebudayaan alam, dan kebudayaan masyarakat perladangan dan pemburu yang masih sering berpindah tempat.

Disisi lain, Koentjaraningrat merinci unsur-unsur kebudayaan yang terdiri dari; bahasa, teknologi, ekonomi, organisasi sosial, pengetahuan, kesenian, dan religi (agama).  Bisa disimpulkan unsur tersebut bersifat universal, sehingga dapat diperkirakan bahwa kebudayaan suku bangsa mengandung adat istiadat, pranata sosial, dan benda-benda kebudayaan.

Mengenai etnografi, menurut pandangan Spredley, etnografi merupakan pekerjaan yang mendeskripsikan suatu kebudayaan.  Dalam hal ini, objek dari penelitian etnografi adalah kebudayaan itu sendiri, sehingga kebudayaan memiliki posisi penting dan sentral untuk dikaji secara lebih mendalam, sebagaimana sifat etnografi untuk mengkaji secara mendalam. Pola kebudayaan yang ada didalam masyarakat diteliti dengan seksama dengan menggunakan metode etnografi.

Disisi lain, buku-buku etnografi mengenai kebudayaan suku bangsa diberbagai tempat di dunia umumnya menggunakan daftar unsur-unsur kebudayaan universal sebagai kerangkanya. Etnografi telah mampu menempatkan diri pada segala posisi di kerangka sosial yang ada disetiap masyarakat. Dalam kesejarahannya etnografi juga menunjukkan eksistensinya dalam menganalisa kebudayaan masyarakat, sebagaimana dipaparkan di atas.

Etnografi dalam mendeskripsikan kebudayaan, baik implisit maupun eksplisit terungkap melalui perkataan, baik secara komentar sederhana maupun wawancara panjang. Perkataan dalam konteks ini termasuk ke dalam bagian unsur-unsur kebudayaan yang bersifat universal, yakni berkaitan dengan bahasa. Oleh sebab itu, tidak dapat dipungkiri bahwa etnografi memiliki kaitan yang cukup erat dengan masyarakat. Terlebih lagi kepada hasil kebudayaannya. Dalam hal ini, masyarakat menjadi sarana untuk meneliti kebudayaan yang ada didalamnya. Tanpa adanya suatu masyarakat, maka mustahil suatu kebudayaan akan lahir dan berkembang. Namun, justru dengan adanya suatu komunitas masyarakat, disitulah terdapat kebudayaan yang akan dihasilkan sebagaihasil, produksi kreativitas dengan cirinya yang sudah jadi.

Disisi lain, kebudayaan juga termasuk prestasi (achievement) tersendiri yang telah memiliki daya tarik sosial, di mana kemudian etnografi akan hadir untuk menghasilkan narasi-narasi dari proses penelitian yang panjang, sehingga dapat dibaca dan diketahui banyak orang.Karena pada dasarnya kebudayaan sebagai prestasi sosial perlu dipublikasikan kepada masyarakat lain sebagai bentuk edukasi kebudayaan, sehingga antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya akan saling mengenal kebudayaannya masing-masing. Secara lebih jauh lagi, dapat terjadi interaksi antar budaya dalam masyarakat yang beragam.

F. Etnografi sebagai Alternatif Penelitian Kebudayaan

Kebudayaan manusia telah menjadi sumber kreativitas yang distingtif. Hal ini menjadi sumber  khazanah dalam perspektif sosial yang perlu upaya untuk terus digali dan didalami secara masif. Kreativitas manusia sepanjang sejarah meliputi banyak kegiatan, di antaranya; organisasi sosial dan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan proses simbolis. Apa yang disebut proses simbolis tersebut cenderung kepada esensi dari budaya itu sendiri, sehingga seringkali kebudayaan dimaknai secara simbolik. Menurut Spradley konsep kebudayaan sebagai sistem simbol memiliki persamaan dengan interaksionalisme simbolik, di mana sebagai teori yang berusaha menjelaskan tingkah laku manusia.

Disisi lain, terdapat gejala formalisasi dan deformalisasi yang merupakan perkembangan yang dialektis dari suatu kebudayaan. Kuntowijoyo menyatakan bahwa proses deformalisasi menjadi dasar bagi tumbuhnya kreativitas baru, dan bukan menuju kepada anarkisme.Sedangkan, informalisasi sebagai proses awal sebelum menuju deformalisasi. Kedua gejala tersebut memberikan gambaran tentang eksistensi dari kebudayaan itu sendiri.

Perkembangan dan eksistensi kebudayaan yang cukup signifikan telah menjadi indikator pentingnya kebudayaan itu sendiri. Oleh sebab itu, kebudayaan yang ada tidak hanya sebatas untuk dilestarikan, tetapi juga perlu dimanifestasikan dalam kerangka pengetahuan agar dapat diketahui oleh masyarakat di luar kebudayaan tersebut. Dalam hal ini, adanya kebudayaan perlu dilestarikan pula melalui teks-teks yang berisi informasi penting akan budaya tersebut. Tentunya membutuhkan upaya yang holistik dan komprehensif.

Menarasikan kebudayaan kedalam bentuk teks telah menjadi ruh dari etnografi, di mana menitikberatkan pada penggambaran kebudayaan yang diteliti. Disinilah peran etnografi dianggap penting dalam menjaga warisan kebudayaan dalam perspektif pengetahuan. Artinya, etnografi telah menjadi alternatif yang dapat digunakan untuk mengabadikan momen kebudayaan yang telah dinilai cukup menarik. Penulisan etnografi mengacu pada studi deskriptif, tetapi dalam perkembangannya etnografi tidak hanya memberikan pemaparan saja, melainkan menggunakan interpretasi pula.

Seperti diketahui bahwa antropolog dalam melaksanakan penelitian etnografi bertugas mendeskripsikan dan menganlisis kebudayaan, yang tujuan utamanya utnuk memahami pandangan (pengetahuan) dan hubungannya dengan kehidupan sehari-hari (tingkah laku) guna mendapatkan pandangan dunia. Dari sini dapat dipahami bahwa yang menarik dari penggunaan etnografi dalam meneliti kebudayaan adalah untuk melahirkan pandangan dunia akan kebudayaan tersebut. Dalam konteks ini, pandangan tersebut lahir sebagai respon, yang kemudian akan memberikan respon yang positif atau justru sebaliknya.

Akan tetapi, pada dasarnya kebudayaan memiliki nilai-nilai yang positif, sehingga pandangan dunia akan cenderung mengarah kepada pandangan yang positif. Penggunaan etnografi dalam kerangka penelitian kebudayaan perlu dikembangkan secara masif untuk dapat menemukan kerangka teori yang baru atau relavan dengan transformasi budaya di era modern saat ini. Hal ini bukan tanpa alasan, karena pada dasarnya iklim metode etnografi juga harus selaras dengan budaya yang dikaji.

Konsep yang inheren dalam etnografi menitikberatkan pada konsep budaya dan in-depth studies, di mana budaya menjadi sentral dari etnografi. Oleh sebab itu, tidak dapat dinafikkan bahwa kebudayaan menjadi bagian penting etnografi. Hal inilah yang seharusnya dimanfaatkan dalam rangka mengembangan penelitian etnografi, sekaligus sebagai upaya melestarikan kebudayaan untuk dinarasikan dalam teks-tesk hasil penelitian.

G. Penutup 
Studi etnografi menitikberatkan pada aspek kebudayaan masyarakat, di mana secara klasifikasi termasuk kedalam penelitian kualitatif. Kebudayaan dalam perspektif etnografi dilihat secara holistik-integratif. Hal inilah yang menjadikan kebudayaan dikaji secara komprehensif melalui etnografi. Disisi lain, pengembangan etnografi dalam penelitian sosial yang menekankan pada aspek kebudayaan perlu dilakukan sebagai upaya mendorong eksistensi budaya itu sendiri.

About Redaksi NU Sumsel

Check Also

Syahwat Politik Jelang Muktamar NU ke 34

NU Sumsel Online -Muktamar NU di Provinsi Lampung, Pulau Sumatera, masih akan berlangsung bulan Desember …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *