KH. Amiruddin Nahrawi

AL-QUR’AN DAN RELASI ANTAR UMAT BERAGAMA

( DISKURSUS  TENTANG  PENDIDIKAN PLURALISME AGAMA DI INDONESIA)

Abstrak

Isu keberagaman dalam beragama menjadi fakta sosial yang terus mengalami guncangan konflik belakangan ini. Bukan tanpa alasan konflik tersebut terjadi, alasan sentimen terhadap agama lain menjadi penyulut lahirnya konflik. Hal ini berdampak pada stabilitas hubungan antar agama yang terganggu. Wacana akan pluralisme agama menjadi alternatif dalam mengatasi masalah tersebut. Membumikan pluralisme agama merupakan upaya yang tepat dengan tidak menciderai nilai-nilai agama. Islam sejatinya hadir memberikan penjelasan yang gamblang didalam Alquran tentang membangun hubungan yang toleran dalam beragama. Tulisan ini akan memaparkan sekaligus memberikan penjelasan nilai-nilai keislaman yang ada didalam Alquran sebagai upaya mengembangkan pluralisme agama yang perlu direpresentasikan dalam konteks sosial yang plural, sehingga diharapkan akan terwujudnya kerukunan antar umat beragama. Selain itu, sebagai tindak lanjut yang konkrit dibutuhkan proses edukasi tentang pentingnya toleransi dalam beragama.  

Kata Kunci: Al-Quran, Toleransi, Pluralisme Agama, Kerukunan

A. Pendahuluan

Dewasa ini, isu pluralisme dalam beragama menjadi sorotan publik. Hal itu sebagai respon atas berbagai rasisme dan sikap intoleransi dalam beragama yang makin berkembang tanpa disadari. Namun, fakta ini memang tidak bisa dibantahkan karena memang mengingat di Indonesia sendiri sebagai negara yang memiliki keragaman yang kompleks juga terdapat konflik yang berkepanjangan. Misal saja, konflik komunal di Poso, Sambas, situbondo, Tasikmalaya, antara umat Islam dan Kristiani bahkan dengan Hindu di mana konflik tersebut mengatasnamakan agama. Agama tanpa disadari telah menjadi penyulut konflik, karena pada dasarnya agama menjadi wilayah privasi yang cukup sensitif.

Meminjam istilah Ahmad Syafi’i Mufid, agama dianggap sebagai identitas suci dibandingkan dengan identitas sosial lainnya. Artinya, agama yang dipeluk seseorang dianggap sebagai sesuatu yang sakral, sehingga tidak seorangpun berhak merusak ataupun menciderai dan mengotori kesuciannya. Selain itu, dalam pandangan Quraish Shihab, agama dan kepercayaan dapat memancing emosi seseorang, di mana hal itu telah menjadi tabiat sebagai seorang manusia, karena pada dasarnya agama (keyakinan) bersemi dan bersumber dari dalam hati, sedangkan hati telah menjadi sumber emosi.Tentunya berbeda dengan pengetahuan yang mengandalkan akal dan pikiran, sehingga pengetahuan tidak mudah memancing emosi didalam hati.

Adanya konflik dalam beragama sejatinya lahir dari sikap eksklusivisme dalam beragama. Penerimaan sosial terhadap agama yang berbeda belum terlaksana secara bijak. Ajaran Islam sebagai agama yang ramah sejatinya memberikan tuntunan yang semestinya. Adanya fakta sejarah pluralisme beragama pada dasarnya telah menunjukkan manifestasi ajaran Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Karena penyebaran Islam pada saat itu dilakukan dengan jalan damai. Namun, persoalan saat ini berakar pada minimnya pemahaman dan kesadaran tentang Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, di mana Islam sebagai agama yang ramah dan toleran terhadap sesama. Selama ini pemahaman tentang Islam hanya sebatas sebagai agama yang superior dibanding agama lain. Oleh sebab itu, perlunya melihat kembali esensi yang ada didalam Alquran dalam merespon pluralitas agama.

B. Definisi Pluralisme Agama

Adanya wacana pluralisme agama yang semakin berkembang selama ini. Maka, perlunya memahami pemaknaan atas pluralisme terlebih dahulu. Pluralisme berakar dari bahasa Latin, plures, yang berarti beberapa dengan implikasi perbedaan. Sedangkan, secara terminologi pluralisme dapat diartikan sebagai paham (isme) atau sistem nilai yang mengakui adanya keberagaman atau kemajemukan. Sedangkan, pluralisme agama memiliki dua makna. Pertama, keberadaan kelompok yang berbeda-beda (keyakinan) dalam masyarakat. Kedua, kebijakan yang menjunjung perlindungan dan penghargaan terhadap perbedaan (keyakinan) tersebut.

Selain itu, menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya menyatakan bahwa pluralisme adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa setiap agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Pluralisme agama menurut MUI tidak lagi dimaknai sebagai adanya kemajemukan agama, tetapi menyamakan semua agama. Namun disayangkan, fatwa ini cenderung menunjukkan adanya sikap eksklusivisme agama yang menyelimuti MUI, sehingga kemudian mengharamkannya. Tentu ini telah menjadi polemik tersendiri. Dikarenakan dapat menimbulkan prasangka negatif (negative stereotyping) yang dapat mengganggu kehidupan sosial-keagamaan.

Menurut Abdul Moqsith Ghazali pluralisme agama diartikan sebagai sistem nilai yang memangdang keberagaman atau kemajemukan agama secara positif sekaligus optimis dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berupaya berbaik sebaik mungkin berdasarkan kenyataan tersebut. Dalam konteks teologi, pluralisme mengandung makna harmoni, konvergensi, dan kompabilitas lintas tradisi agama, sehingga dari perspektif teologi pluralisme agama merupakan lawan dari ekslusivisme agama. Namun, terdapat pendapat lain yang menyatakan makna pluralisme agama adalah tidak mengakui semua agama benar, tetapi saling memberikan ruang yang sama terhadap agama atau aliran agar tetap berkembang di masyarakat. Hal ini menjadikan bentuk budaya dan agama harus diperlakukan sama dalam ruang publik.

Selain itu, penjelasan yang lebih rinci tentang pluralisme disampaikan oleh Profesor Diana Eck dari Harvard Divinity School, menurutnya pluralisme yang memimpin pluralism project berbeda dengan plurality atau diversity (keberagaman). Diversity dijelaskan oleh Diana Eck sebagai pluralitas yang alami, basic, simple, colorful, splendid, dan given sifatnya, atau dalam istilah santri disebut sebagai sunnatullah. Sedangkan, pluralisme dijelaskan oleh Diana Eck sebagai sebuah proses pergumulan, yang bertujuan menciptakan sebuah masyarakat bersama atau common society.

Dalam hal ini, pluralitas (kemajemukan) merupakan pemberian atau anugerah Tuhan (given). Sementara, pluralisme merupakan sebuah prestasi (achievement) bersama dari kelompok budaya dan agama yang berbeda untuk menciptakan common society. Kunci utama dalam memahami pluralisme adalah pergumulan kreatif-intensif terhadap fakta pluralitas atau dalam istilah Thomas Banchoff (Direktur Berkley Center for Religion, Peace, and World Affairs) disebut sebagai peaceful interaction.

Patut dipahami adanya pluralisme agama tidak lepas dari fakta dan realitas sosial yang ada, sehingga tidak mungkin untuk mengingkarinya. Persepsi ini menjadi penting dikala adanya ketidakberimbangan informasi yang komprehenshif secara akademik di kalangan masyarakat. Setidaknya diperlukan informasi untuk dapatmemberikan gambaran pemahaman yang bijak dan tepat tentang pluralisme agama, sehingga tidak ada lagi kesalahpahaman yang dapat berakibat fatal pada eksklusivisme agama.

C. Historisasi Realitas Pluralisme Agama di Indonesia

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia telah memiliki rekam jejak sejarah yang panjang dan kompleks. Bukan sekadar sejarah perjuangan kemerdekaan melawan kolonialisme, yang notabennya sebagai sejarah membangun kekuasaan politik kenegaraan. Namun, Indonesia juga memiliki khazanah sejarah perjalanan dan perkembangan kepercayaan (agama) masyarakat Indonesia. Keberagaman etnis dan budaya yang ada di Indonesia juga telah memiliki distingsi catatan sejarah masing-masing dalam bingkai kearifan lokal (local wisdom) yang menarik.

Tidak dapat dipungkiri sebelum Islam masuk ke Indonesia pada abad ke- 7 ataupun dalam catatan sejarah lain dinyatakan pada abad ke-14. Bahkan, kalangan sejarawan menyakini bahwa proses Islamisasi, khususnya di Jawa terjadi pada periodisasi abad ke-14 hingga abad ke-16. Pada periodisasi abad tersebut Islam hadir dengan heroiknya, di mana Islam tidak lagi tampil sebagai community yang sporadis, tetapi sudah menjadi societyyang terstruktur.

Dalam historisasinya, jauh sebelum Islam hadir di Nusantara, masyarakat Indonesia telah memiliki berbagai kepercayaan lokal yang telah ada secara turun-temurun yang telah melekat dan bersemai bersama tradisi adat istiadat, termasuk pula adanya kepercayaan agama Hindu dan Budha yang telah dianut pada saat itu. Seperti diketahui agama Hindu dan Budha telah dianggap sebagai agama nenek moyang masyarakat Indonesia. Eksistensinya dapat dilihat pada kemegahan peninggalan sejarah keagamaan Hindu dan Budha, seperti Candi Prambanan dan Borobudor yang eksotikanya membuat dunia terpesona. Kedua candi tersebut berasal dari abad ke-8 hingga ke-9. Sampai saat ini pembangunan keduanya diasumsikan lahir dari kemelut persaingan dinasti-dinasti yang bersaing di Jawa Tengah, di mana Syailendra yang Budha dari basis mereka di Sumatera Selatan dan dinasti Hindu Jawa, yakni Sanjaya. Pelacakan sejarah atas kedua candi spektakuler tersebut menurut Anthony Reid menunjukkan adanya fakta koeksitensi damai dari kedua agama (Hindu dan Budha).Damai sosial dalam bingkai keberagaman kepercayaan pada masa silam menjadi simbol adanya pluralisme dalam beragama.

Periode berikutnya, Dinasti Yuan (Cina) yang notabennya memeluk agama Budhisme, Taoisme, dan Konfousianisme mendarat di pulau Jawa pada abad ke-12. Upaya kedatangan ke Nusantara dimaksudkan untuk berkoalisi dengan Raden Wijaya, di mana sebelumnya Prajurit Tartar dari Dinansti Yuan menghimpun serdadu Han dan Hui (etnis Tionghoa dan kelompok Tionghoa Muslim). Koalisi ini pada akhirnya melahirkan perluasan kerajaan Majapahit sebagai imperium regional. Dalam konteks ini, perbedaan agama tidak menjadi halangan untuk saling bekerjasama. Selain itu, dinasti Yuan juga dikenal memiliki toleransi agama yang tinggi kepada semua kalangan agama.

Islam lahir di tanah Nusantara tentu melewati proses yang sangat panjang dan mengalami persinggungan dengan kepercayaan agama lain dalam menyebarkannya. Penyebaran Islam diberbagai pelosok wilayah di Nusantara tidak lepas dari adanya peran Wali Songo. Mereka melakukan strategi menyebarkan agama Islam dengan cara yang sejuk dan damai. Karena mereka memahami kondisi masyarakat yang saat itu juga memiliki kepercayaannya sendiri-sendiri. Penyeberan Islam dengan cara yang sejuk dan damai demi mewujudkan adanya kenyamanan dan keamanaan antar pemeluk agama kepercayaan yang lain, sehingga tidak mengusik ataupun mengganggu kepercayaan yang lain. Hal itu dilakukan sebagai bukti bahwa Islam menghargai perbedaan dan pada dasarnya tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam.

Cara tersebut dilakukan untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang ramah, termasuk keramahan pada pemeluk agama kepercayaan yang lain. Spirit yang dibangun dalam Islam adalah spirit agama Rahmatan Lil ‘Alamin. Artinya, Islam mampu menebarkan benih-benih kedamaian kepada siapa saja dalam mengimplementasikan ajaran teologisnya. Kepada umat manapun Islam akan memberikan kesejukan dan keramahannya, karena pada dasarnya Islam disebar luaskan bukan dengan jalan peperangan, tetapi dengan jalan kesejukan dan keramahan. Begitulah metode penyebaran Islam oleh Wali Songo agar mendapatkan simpatik dari nurani masyarakat pada saat itu, sehingga tanpa dipaksa sekalipun mereka akan menyatakan diri memeluk ajaran agama Islam.

Menilik pada pergolakan sejarah kemerdekaan Indonesia, di mana mampu melahirkan Pancasila, sebenarnya hal itu sebagai bentuk kompromi tiga pihak, yakni umat Islam, Muslim Abangan, kaum minoritas (selain agama Islam). Disisi lain, falsafah Bhinneka Tunggal Ika yang berasal dari puisi Mpu Tantular yang didalamnya merenungkan kesatuan esensial perbedaan yang ada dipermukaan, seperti diantara Budhisme, Saivisme, dan Islam yang baru datang, serta keberadaannya saat itu masih terpinggirkan. Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa pluralisme beragama tidak dapat dinafikkan, sehingga keberadannya akan senantiasa mewarnai kerangka sosial masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

Realitas sejarah pluralisme agama di Indonesia memang tidak dapat dipungkiri. Menurut Ahmad Syafi’i Ma’arif pluralisme agama merupakan fakta sejarah. Bahkan, pluralisme di Indonesia memiliki basis sejarah dan ideologi yang kokoh, meskipun pada periode tertentu otoritariasnisme politis-religius berupaya mencabutnya.Selain itu, Anthony Reid mengemukakan pendapatnya bahwa Indonesia telah memiliki sejarah panjang dalam beragama, di mana orang-orang yang berbeda agama telah hidup berdampingan secara damai selama berabad-abad silam. Bahkan, dalam konteks Asia, Reid menyatakan orang Asia dalam menghadapi keragaman agama dan budaya dilakukan secara jauh lebih damai.Interaksi sosial yang damai menunjukkan adanya koeksistensi dalam kehidupan bermasyarakat.

About Redaksi NU Sumsel

Check Also

Syahwat Politik Jelang Muktamar NU ke 34

NU Sumsel Online -Muktamar NU di Provinsi Lampung, Pulau Sumatera, masih akan berlangsung bulan Desember …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *