KH. Amiruddin Nahrawi

Moderasi Beragama Dalam Bingkai Keragaman di Indonesia

Pendahuluan

Masyarakat Indonesia memiliki beraneka ragametnis, bahasa, agama, budaya, dan status sosial.Keragaman dapat menjadi integrating force yangmengikat kemasyarakatan namun dapat menjadipenyebab terjadinya benturan antar budaya, antar ras,etnik, agama dan antar nilai-nilai hidup. Keragamanbudaya (multikultural) merupakan peristiwa alamikarena bertemu nya berbagai budaya, berinteraksinyaberagam individu dan kelompok dengan membawaperilaku budaya, memiliki cara hidup berlainan danspesifik. Keragaman seperti keragaman budaya, latarbelakang keluarga, agama, dan etnis tersebut salingberinteraksi dalam komunitas masyarakat Indonesia.

Dalam masyarakat multikultural, interaksi sesamamanusia cukup tinggi intensitasnya, sehinggakemampuan sosial warga masyarakat dalamberinteraksi antar manusia perlu dimiliki setiapanggota masyarakat. Kemampuan tersebut mencakuptiga wilayah, yaitu : affiliation (kerja sama),cooperation and resolution conflict (kerjasama dan penyelesaian konflik), kindness, care and affection/emphatic skill (keramahan, perhatian, dan kasihsayang).

Moderasi dalam keragaman Indonesia

Dalam masyarakat Indonesia yang multibudaya, sikap keberagamaan yang ekslusif yang hanyamengakui kebenaran dan keselamatan secara sepihak,tentu dapat menimbulkan gesekan antar kelompokagama. Konflik keagamaan yang banyak terjadi diIndonesia, umumnya dipicu adanya sikapkeberagamaan yang ekslusif, serta adanya kontestasiantar kelompok agama dalam meraih dukungan umatyang tidak dilandasi sikap toleran, karena masing-masing meng- gunakan kekuatannya untuk menangsehingga memicu konflik.

Dalam kontek fundamentalisme agama, makauntuk menghindari disharmoni perlu ditumbuhkancara beragama yang moderat, atau sikap beragamayang terbuka, yang disebut sikap moderasi beragama.Moderasi itu artinya moderat, lawan dari ekstrem, atauberlebihan dalam menyikapi perbedaan dankeragaman.

Kata moderat dalam bahasa Arab dikenal denganal-wasathiyah sebagaimana terekam dari QS.al-Baqarah [2] : 143. Kata al-Wasath bermakana terbaikdan paling sempurna. Dalam hadis yang juga disebutkan bahwa sebaik-baik persoalan adalah yangberada di tengah-tengah. Dalam melihat danmenyelesaikan satu persoalan, Islam moderat mencobamelakukan pendekatan kompromi dan berada ditengah. tengah, dalam menyikapi sebuah perbedaan,baik perbedaan agama ataupun mazhab, Islam moderatmengedepankan sikap toleransi, saling menghargai, dengan tetap meyakini kebenaran keyakinan masing-masing agama dan mazhab, sehingga semua dapatmenerima keputusan dengan kepala dingin, tanpaharus terlibat dalam aksi yang anarkis.

Dengan demikian moderasi beragama merupakansebuah jalan tengah di tengah keberagaman agama diIndonesia. Moderasi merupakan budaya Nusantara yang berjalan seiring, dan tidak saling menegasikanantara agama dan kearifan lokal (local wisdom). Tidaksaling mempertentangkan namun mencaripenyelesaian dengan toleran.

Perbedaan tidak menghalangi untuk menjalinkerja sama, dengan asas kemanusiaan. Meyakiniagama Islam yang paling benar, tidak berarti harusmelecehkan agama orang lain. Sehingga akanterjadilah persaudaraan dan persatuan anatar agama,sebagaimana yang pernah terjadi di Madinah di bawahkomando Rasulullah SAW. Moderasi harus dipahamiditumbuh-kembangkan sebagai komitmen bersamauntuk menjaga keseimbangan yang paripurna, di manasetiap warga masyarakat, apapun suku, etnis, budaya, agama, dan pilihan politik nya mau salingmendengarkan satu sama lain serta saling belajarmelatih kemampuan mengelola dan mengatasiperbedaan di antara mereka.

Untuk mewujudkan moderasi tentu harusdihindari sikap inklusif. Menurut Shihab bahwakonsep Islam inklusif adalah tidak hanya sebataspengakuan akan kemajemukan masyarakat, tapi juga harus diaktualisasikan dalam bentuk keterlibatan aktifterhadap kenyataan tersebut. Sikap inklusiv-isme yangdipahami dalam pemikiran Islam adalah memberikanruang bagi keragaman pemikiran, pemahaman danperpsepsi keislaman.

Dalam pemahaman ini, kebenaran tidak hanyaterdapat dalam satu kelompok saja, melain kan juga ada pada kelompok yang lain, termasuk kelompokagama sekalipun. Pemahaman ini berangkat darisebuah keyakinan bahwa pada dasarnya semua agama membawa ajaran keselamatan. Perbedaan dari satuagama yang dibawah seorang nabi dari generasi kegenerasi hanyalah syariat saja.

Jadi jelas bahwa moderasi beragama sangat eratterkait dengan menjaga kebersamaan dengan memilikisikaptenggang rasa’, sebuah warisan leluhur yangmengajarkan kita untuk saling memahami satu samalain yang berbeda dengan kita. Seruan untuk selalumenggaungkan moderasi, mengambil jalan tengah, melalui perkataan dan tindakan bukan hanya menjadikepedulian para pelayan publik seperti tokoh agama, namun seluruh warga negara Indonesia saja danseluruh umat manusia.

Berbagai konflik dan ketegangan antar umatmanusia dalam keragaman agama, suku, faham dan sebagainya telah memunculkan ketetapaninternasional lewat Perserikatan Bangsa Bangsa yang menetapkan tahun 2019 ini sebagai Tahun ModerasiInternasional (The International Year of Moderation ).

Agama menjadi pedoman hidup dan solusi jalantengah (the middle path) yang adil dalam menghadapimasalah hidup dan kemasyarakatan, agama menjadicara pandang dan pedoman yang seimbang antaraurusan dunia dan akhirat, akal dan hati, rasio dan norma, idealisme dan fakta, individu dan masyarakat.Hal sesuai dengan tujuan agama diturunkan ke dunia ini agar menjadi tuntunan hidup, agama diturunkan kebumi untuk menjawab berbagai persoalan dunia, baikdalam skala mikro maupun makro, keluarga (privat)maupun negara (publik).

Sebagai masyarakat yang fanatik dengankeyakinannya, maka pendekatan keagamaan menjadipilihan untuk membangun keharmonisan umat.Pendekatan yang dipilih tentunya sikap beragamayang damai, yang sesuai dengan kultur masyarakatIndonesia yang multikultural. Dengan pendekatan ini,moderasi beragama yang ramah, toleran, terbuka, fleksibel dapat menjadi jawaban terhadapkekhawatiran konflik yang marak terjadi di tengahmasyarakat mulkultural.

Moderasi beragama tidak berarti bahwamencampuradukkan kebenaran dan menghilangkanjati diri masing-masing. Sikap moderasi tidakmenistakan kebenaran, kita tetap memiliki sikap yangjelas dalam suatu persoalan, tentang kebenaran, tentang hukum suatu masalah, namun dalam moderasiberagama, kita lebih pada sikap keterbukaanmenerima bahwa diluar diri kita ada saudara sebangsayang juga memiliki hak yang sama dengan kitasebagai masyarakat yang ber daulat dalam bingkaikebangsaan. Masing-masing orang memilikikeyakinan di luar keyakinan atau agama yang mestikita hormati dan akui keberadaannya, untuk itu kitaperlu terus menerus bertindak dan beragama dengancara moderat.

Moderasi dalam Islam telah dicontohkan oleh para pendahulu kita, mulai dari Nabi kita, sahabat,para ulama termasuk ulama-ulama kita adalah berlakuadil atas sesama tanpa harus melihat latarbelakangagama, ras, suku dan bahasa.

Negara Indonesia adalah negara dengan jumlahpenduduk muslim terbanyak di dunia, Islam pembawakedamaian, nilai-nilai Islam sangat mendukungterciptanyya kedamaian, maka selayaknyalah umatIslam yang rohmatan lil alamin menjadi penggerakkedamaian dan pengayom masyarakat. Disini terdapatkesadaran bahwa dalam keberagaman terdapatberagam keragaman seperti perbedaan dan keragamanfaham agama.

Dalam mengejawantahkan keagamaannya, masing masing memiliki kultur, bahasa, adat, dan kewajiban yang sama-sama dimiliki dan perludihormati. Dengan keyakinan itulah akanmengantarkan kepada sikap keterbukaan, toleran, dan fleksibel dalam bertingkah.

Bagaimana sikap moderat tersebut ditumbuhkembangkan di masyarakat kita ? Setidaknya perlumenggunakan pendekatan agama dan pendekatanmultikultural. Pendekatan agama didahulukan, karenakeyakinan agama sangat dominan dalam kehidupanseseorang.

Sikap moderat dalam beragama berasal darikonseptawasuth ”, karena dalam segala aspekajarannya Islam i tu berkarakter moderat. Kitadianjurkan untuk t idak berlebih-lebihan dalamberagama atau bersikap ekstrim (ghuluw). Allah memerintahkan bersikap tawazun ” (seimbang). Dalam QS ArRahman : Dan langit Allah tinggikandan timbangan diletak kan. Agar kamu janganmelampaui timbangan (keseimbangan)”. (Darlis,2017).

Dalam Risalah Jakarta disepakati bahwakonservatisme adalah sesuatu yang lumrah dalamberagama karena pemeluk agama berkewajibanmemelihara keyakinan dan praktek keagamaannya.

Namun yang perlu untuk dihindarkan oleh setiappemeluk agama adalah sikap yang terlalu berlebihandalam beragama (ultra-conservatism ). Dalam Islam, sikap tidak berlebih-lebihan tersebut berangkat darikonsep al wasathiyah yang bermakna seimbang.

Dalam konteks Indonesia, al wasathiyahmeniscayakan keseimbangan antara ber agama menurut teks Kitab Suci dengan penerapan nya secarakontekstual. Pertimbangan konteks dalam beragamaberangkat dari prinsip maqashid atau tujuanditetapkannya hukum Islam ( Syari’ah). ModerasiIslam menjadi paham keagamaan keislaman yangmengejewantahkan ajaran Islam yang sangat esensial.Ajaran yang tidak hanya mementingkan hubunganbaik kepada Allah, tapi juga yang tak kalah pentingadalah hubungan baik kepada seluruh manusia. Bukanhanya pada saudara seiman tapi juga kepada saudarayang  beda agama. Moderasi ini mengedepankan sikapketerbukaan terhadap perbedaan yang ada yang diyakini sebagai sunnatullah dan rahmat bagi manusia.Selain i tu, moderasi Islam tercerminkan dalam sikapyang tidak mudah untuk menyalahkan apalagi sampaipada peng kafiran terhadap orang atau kelompokyang ber beda pandangan.

Moderasi Islam lebih mengedepankanpersaudaraan yang berlandaskan pada asaskemanusiaan, bukan hanya pada asas keimanan ataukebangsaan.

Sesuai pendapat Mas’ud, (2018) perlunyamengembangkan wawasan multikultural bagi segenapunsur dan lapisan masyarakat,serta peningkatan dialog dan kerja sama intern dan antarumat beragama denganpemerintah dalam pembinaan kerukunan umatberagama.

Simpulan

Dalam kehidupan multikultural diperlukanpemahaman dan kesadaran multibudaya yangmenghargai perbedaan, kemajemukan dan sekaliguskemauan berinteraksi dengan siapapun secara adil. Menghadapi keragaman, maka diperlu kan sikapmoderasi, bentuk moderasi ini bisa berbeda antara satutempat dengan tempat lainnya. Sikap moderasi berupapengakuan atas keberadaan pihak lain, pemilikansikap toleran, penghormatan atas perbedaan pendapat, dan t idak memaksakan kehendak dengan carakekerasan.

Diperlukan peran pemerintah, tokoh masyarakat, dan para tokoh agama untukmensosialisasikan,menumbuhkembangkan wawasanmoderasi beragama terhadap masyarakat Indonesia untuk terwujudnya keharmonisan dan kedamaian.berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Sikap moderasi berupa pengakuan atas keberadaanpihak lain, pemilikan sikap toleran, penghormatan atasperbedaan pendapat, dan t idak memaksakan kehendakdengan cara kekerasan.

 

Berita Lainnya :   Cak Amir Stafsus Gubernur Jelaskan Manfaat dan Keutamaan Sholat Dhuha

Penulis: KH Amiruddin Nahwari / Ketua PWNU Sumatera Selatan / Wakil Ketua LPB MUI Pusat / Bendahara Lembaga Dakwah PBNU Pusat / Staf Khusus Gubernur Bidang Hubungan AntarAgama / Mitra Dakwah Pegadaian Sumbagsel

About Redaksi NU Sumsel

Check Also

Syahwat Politik Jelang Muktamar NU ke 34

NU Sumsel Online -Muktamar NU di Provinsi Lampung, Pulau Sumatera, masih akan berlangsung bulan Desember …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *