Islam Kita, Islam Nusantara

NU Sumsel Online – Saat membaca postingan Dr. Rumadi Ahmad, 6 Februari lalu yang muncul di berada facebook, saya langsung tertarik dengan buku ini. Pertama, judulnya berbicara soal Islam Nusantara dengan teks lengkap ‘Keberagaman Islam Nusantara Respon atas Isu-isu Kontemporer’. Kedua, covernya diilustrasi pria menggunakan Ghutrah (kain penutup kepala) seperti orang arab, pria berpeci (khas Indonesia) dan perempuan berjilbab sedang membaca al-Qur’an. Cover ini seakan mengafirmasi sisi lain dari judul buku ini. Saya pun langsung pesan tanpa melihat harganya, yang jelas promosi penulis harganya hanya secangkir kopi di Strabacks.

Saat menerima buku ini, kemarin sore (Kamis, 15 Februari) pertama kali yang saya baca adalah daftar isinya. Tebal 380 halaman dengan ukuran 14 x 20,5 cm, buku ini tersaji menjadi VI Bab. Meliputi Islam Nusantara, Harmoni Umat Beragama (Bab I). Isinya seputar rancang bangun Islam Nusantara dan Islam Nusantara untuk peradaban dunia. Lalu, Bab II membahas tentang Islam Nusantara dan tantangan keberagaman. Selanjutnya Agama, Negara dan perempuan (Bab III), dan bab terakhir fikih minoritas dan hukuman mati.

Sayapun langsung tertarik melihat daftar isi buku ini, dan benar saja ketika memulai bacaan dari redaksi, pengantar penulis dan kata pengantar yang disampaikan oleh ketua umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siraj tanpa terasa bab demi bab saya lahap. Jadilah semalam, saya mengkhatamkan buku ini dengan ditemani segelas kopi.

Buku yang ditulis oleh ketua Lakpesdam PBNU ini mengupas Islam Nusantara secara sederhana dan mudah dipahami. Sajian-sajiannya menjawab pertanyaan kenapa Islam Nusantara dipeributkan? Padahal sudah jelas sekali dalam beberapakali kesempatan KH Said Aqil Siraj telah menerangkan bahwa Islam Nusantara bukanlah sebuah mazhab, aliran, atau pun sebuah sekte baru. Melainkan tipologi ‘khashais’. Islam Nusantara adalah sebuah sikap keberagaman yang khas dan unik yang diamalkan oleh ummat muslim nusantara. Islam Nusantara tidak masuk dalam ranah tauhid, hanya merupakan bagian dari pergumulan antara syariat dan budaya.

Berita Lainnya :   Mufakat, KH Jamil Rusydi Rais Syuriah dan Ust Ghazali Ketua Tanfidziah PCNU Pagaralam

Lebih jelasnya dalam buku ini penulis memaparkan apa Islam Nusantara? Mengapa Islam Nusantara? Apa saja karakteristik Islam Nusantara? Dan bagaimana Islam Nusantara menjadi landasan berfikir dan bertindak. Singkatnya, pembaca akan dijelaskan secara komprehensif sehingga bagi yang masih mempertanyakan Islam Nusantara menjadi mengerti secara historis, filosofis dan sosiologisnya. Penulis juga mendeskripsikan golongan yang meributkan, menuduh, memfitnah dan sebutan lainnya yang tidak senang terhadap istilah Islam Nusantara. Nah, siapakah sesungguhnya mereka? Juga dikupas dalam buku ini (hal: 30-32).

Kelebihan lain dalam buku ini, penulis mampu mengurai bagaimana Islam Nusantara menjawab tantangan keberagaman dan merespon isu-isu kontemporer. Seperti ulasan mengenai hate speech (ujaran kebencian) yang ramai seiring dengan majunya perkembangan teknologi. Kini, atas nama dakwah siapapun bisa berlindung dibalik ujaran kebencian, memprovokasi, memusuhi, mengajak saling membenci dan seolah mendapatkan pembenaran ligitimasi sebagai ajaran agama.

Sementara, NU sebagai manifestassi Islam Nusantara berpendapat al-amr bil al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al munkar tidak bisa disandingkan dengan ujaran kebencian karena mengajak kebaikan (amr ma’ruf) harus dilakukan berdasarkan aklakul kharimah yang mencerminkan kasih sayang, cinta kasih, dan menjaga kehormatan. Al-amr bil al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al munkar juga tidak bisa dilakukan dengan kemungkaran karena mengajak kebaikan juga harus dilakukan dengan kebaikan. (hal:163). Tentunya masih banyak lagi isu kontemporer dari buku ini yang diulas, menjadi bagian penting untuk dibaca secara langsung.

Berita Lainnya :   Perda Pesantren Jadi Rekognisi Sekaligus Apresiasi

Secara objektif buku ini sesuai ekspektasi saya yang sedang mencari referensi dan mendalami mengenai Islam Nusantara. Buku ini, sebagaimana yang diakui oleh penulis adalah tulisannya yang tersebar di berbagai tempat, ada yang dari chapter sebuah buku dan sebagai besar jurnal. Sehingga bukanlah buku yang sengaja atau khusus ditulis dalam kajian Islam Nusantara dalam presfektif lainnya. Buku ini masih terasa seperti kompilasi tulisan, meski terdapat benang merah yang mempertemukan dengan tema. Dan jujur ini tidak bisa juga saya sebut sebagai kekurangan melainkan ciri khas dari buku ini.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca bagi siapa saja yang ingin mengetahui Keberagaman Islam Nusantara, bagi mereka yang sudah paham tentu akan menjadi kemantapan dan kekayaan intelektual dalam memaknai Islam Nusantara. Bagi yang sinis atau tidak percaya bisa juga membacanya untuk perbandingan dengan catatan anda akan paham dan tidak lagi mempermasalahkan istilah Islam Nusantara, atau anda akan membantahnya. Tentu saja ruang diskusi ilmiah terbuka lebar dan pastinya dengan argumentasi ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan, bukan sekedar pokoknya Islam Nusantara itu salah lalu menuduh sesat.

Bagi saya setelah saya baca buku ini, menjadi sependapat dengan perkataan bapak Presiden Joko Widodo dalam Munas Alim Ulama NU di Masjid Istiqlal tahun 2015 lalu, bahwa Islam kita Islam Nusantara. (wallahu a’lam)

*Peresensi: Abdul Malik Syafei, S.HI.,MH merupakan jurnalis dan inteletual muda NU Sumsel.

About Redaksi NU Sumsel

Check Also

Perda Pesantren Jadi Rekognisi Sekaligus Apresiasi

NU Online Sumsel – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menyetujuiPerda inisiatif DPRD Sumsel tentang Dukungan danFasilitasi Penyelenggaraan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *