Ir. H. Najmi Yunus Idrus, MM

Filosofi Pohon Pisang

NU Online Sumsel  – Pohon Pisang memiliki karakteristik selalu hidup merumpun dan berumpun. Ia tidak pernah tumbuh sebatang sendiri. Kenyataan ini diterjemahkan sebagai keteguhan dalam persatuan dan konsistensi dalam kebersamaan. Bersatu dalam kebersamaan bukan berarti bersikap reaktif jika menghadapi desakan kegawatan dan mengatasi suatu permasalahan, tetapi kebersamaan sepanjang masa, berkesinambungan dari generasi kegenerasi. Sebelum layu dan mati pohon pisang lebih dahulu memproses kehidupan anak turunannya dengan tunas-tunas muda, yang bermunculan di sekitarnya. Ini jauh terjadi sebelum batang induk layu dan mati.

Pohon pisang


Dalam Al Qur’an hanya mencantumkan sekitar 7 buah dan se
lebihnya tidak disebutkan yaitu Buah Khuldi, Buah Anggur, Buah Tin, Buah Zaitun, Buah Pisang, Buah Delima, dan Buah Kurma. Pohon pisang yang belum berbuah akan tetap bersemi walau di pancung sekalipun.

Allah berfirman dalam QS. Al-Waqiah ayat 29 yang berbunyi: وَطَلْحٍ مَّنضُودٍ  (wazhillin mamduud) yang artinya :Dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)”. Kemudian pada Surat Al An”aam Allah berfirman tentang tumbuh-tumbuhan diatas bumi yang berbunyi :

وَهُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِن طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِّنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انظُرُواْ إِلِى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ﴿٩٩﴾

Wahuwa allazhii anzala mina alssamai maan faakhrajna bihi nabata kulli shayin faakhrajna minhu khadiran nukhriju minhu habban mutarakiban wamina alnnakhli min talAAiha qinwanun daniyatun wajannatin min aAAnabin waalzzaytuuna waalrrummana mushtabihan waghayra mutashabihin azhuruuila thamarihi izha athmara wayanAAihi inna fii zhalikum laayatin liqawmin yuminuuna

Yang artinya : Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya.Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.

Realitas ini diterjemahkan sebagai unsur tabiat kesinambungan regenerasi. Misi generasi ini disandang dengan ketaatan yang nyaris mutlak. Tiada surut ke masa lampau sebelum berubah dan menyiapkan anak penggantinya. Pohon pisangpun mampu berinteraksi secara sosial dan ekologis dengan lingkungan sekitar.Interaksi ini dibangun di atas landasan semangat timbal balik yang saling menguntungkan. Kenyataan pohon pisang tetap bermanfaat bagi manusia, makhluk lainnya dan bagi alam sekitar. daunnya bisa dipakai payung dikala hujan dan bisa juga dipakai untuk bungkus makanandemikian juga dengan batangnya..

Pohon pisang tumbuh dan hidup di atas bumi di manapun manusia bisa tinggal, menunjukkan betapa dia selalu dekat dengan mahluk yang memanfaatkannya. Tak ada bagian tubuhnya yang tak bisa dimanfaatkan manusia. Buahnya yang manis dan menguatkan meberikan energy dan kesehatan dari bayi yang baru lahir hingga yang telah berusia lanjut. Semangat hidup yang tak kenal menyerah dan hanya akan berakhir bila berbuah. Meskipun tubuhnya ditebang ataupun dibakar. Dia akan bersemi kembali.

Dan yang paling penting dan justru paling sering dilupakan adalah pohon pisang selalu mempersiapkan kader penerusnya, jauh hari sebelum hidup dan manfaatnya berakhir.

Pesan Moral yang dapat kita ambil dari filosofi tersebut, bahwa manusia itu tidak akan dapat hidup kekal atau selamanya didunia, oleh karena itu senantiasa selalu berbuatlah amal kebaikan, dan sebisa mungkin berbagilah ilmu yang kita miliki untuk setiap orang, agar lebih bermanfaat. Dan janganlah cepat menyerah dengan segala ujian yang diberikan Allah SWT kepada kita, karena ujian yang datang dari Allah itu untuk mengetahui seberapakah kuat iman kita, dan percayalah bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan hambanya melebihi batas kemampuannya. “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ad-Daruquthni dan Ath-Thabarani).

 

Berita Lainnya :   Studi Etnografi dalam Kerangka Masyarakat dan Budaya

Penulis : Ir. H. Najmi Yunus Idrus, MM | Sekertaris Lembaga Dakwah PWNU Sumsel

About Redaksi NU Sumsel

Check Also

Syahwat Politik Jelang Muktamar NU ke 34

NU Sumsel Online -Muktamar NU di Provinsi Lampung, Pulau Sumatera, masih akan berlangsung bulan Desember …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *